Suku Amungme di Kabupaten Mimika, Papua kini bisa memetik keuntungan dari lahan kopi milik mereka. Dari penjualan terbatas kepada ekspatriat, kini kopi Amungme bisa menjelajah Papua.

Bisnis kopi Amungme dimulai pada tahun 1998. Saat itu PT Freeport Indonesia melalui program Highland Agriculture Developmet (HAD) membuka perkebunan kopi di dataran tinggi.

Adalah Carolyn Cook, warga negara AS yang bekerja di Freeport yang memulai pembinaan kepada suku Amungme. "Dulunya tanam Pandanus, tapi setelah itu Carolyn mengambil bibit kopi di Monamani," kata karyawan PT Freeport, Harony Sedik di pabrik pengolahan biji kopi Amungme di Timika, Jumat (23/11/2012).

Bibit kopi yang dibawa kemudian dicoba ditanam di Desa Banti, Tembagapura. "Hasilnya dikelola masyarakat dengan proses pengolahan masih manual dan dijual di Tembagapura," lanjutnya.

Dalam program pendampingan, petani binaan dimodali segala kebutuhan penanaman. Hasil panen akan dibawa ke pabrik pengolahan dekat Bandara Mozes Kilangin menggunakn helikopter sewaan Freeport.

"Kita tidak berorientasi bisnis, tapi keuntungan sepenuhnya kembali ke petani binaan," terang Harony.

Per harinya produksi pengolahan kopi bisa mencapai 400 bungkus kemasan 250 gram. Per kemasan dijual Rp 45 ribu bila dibeli langsung. Namun kopi Amungme juga dijual di swalayan tentunya dengan harga yang lebih tinggi.

Ada 4 tahapan pengolahan kopi yang ditanam di tebing dengan ketinggian 1.500 meter ini, yaitu kupas, pengeringan, fermentasi dan roasting. Kopi Amungme memiliki cita rasa nikmat ditambah aromanya kuat.

Sebelum ada pabrik pengolahan, mereka menyewa ruko kecil di Timika dilengkapi dengan mesin pengolahan. "Pada tahun 2006-2007, pembeli dibatasi membeli kopi hanya 2 kilogram," sebutnya.

Petani binaan suku Amungme bisa mendapatkan uang hingga Rp 4 juta atas hasil panen. "Tergantung per jam kerja per hari," ujarnya. Penghasilan ini langsung ditransfer ke rekening petani binaan.

"Kita hanya mengajari berbisnis supaya mereka tahu mereka punya potensi besar untuk berbisnis," tutur dia.

Harony menjelaskan bisnis kopi ini murni program Freeport untuk mengembangkan ekonomi masyrakat. "Ini salah satu program kecil yang dilakukan Freeport untuk mereka bisa hidup dengan kopi. Tujuannya mengurangi ketergantungan dengan Freeport bila nanti tidak lagi beroperasi," imbuhnya.

Sampai pada tahun 2012 jumlah petani yang terlibat aktif dalam perkebunan kopi mencapai 24 petani binaan dan puluhan petani mandiri dari Distrik Tsinga, Hoea, Aroanop.

Similar Threads: